Judul : Menulis Cerita Fiksi
Pertemuan ke : 10
Tanggal : 30 Januari 2023
Pembicara : Bambang Purwanto, S.Kom, Gr.
Judul : Menulis Cerita Fiksi
Pertemuan ke : 10
Tanggal : 30 Januari 2023
Pembicara : Bambang Purwanto, S.Kom, Gr.
Judul : Apakah Menulis itu Mudah?
Pertemuan : 9
Pembicara : Prof. Dr. Ngainun Naim
Menulis merupakan suatu kegiatan untuk menciptakan suatu catatan atau informasi pada suatu media dengan menggunakan aksara. Menulis biasa dilakukan pada media berbentuk kertas dengan menggunakan alat-alat seperti pena atau pensil. Zaman berkembang, bahkan menulis tidak hanya dituangkan ke dalam kertas putih menggunakan pensil. Kini, catatan kecil pun dapat kita ketik menggunakan layar sentuh (HP) atau dengan laptop.
Salah satu kunci dalam menulis adalah "menuangkan hal-hal sederhana yang kita alami" sebelum menggunakan bahasa baku atau sesuai dengan kaidah EYD. Sebuah tulisan akan menjadi bermakna ketika kita mempunyai ciri khas dari karakter penulisan pribadi kita. Tulisan kita lah yang akan menunjukkan siapa diri kita.
Kunci kedua dalam menulis adalah "Jangan mengedit ketika menulis". Hal ini sering menjadi hambatan saat kita sedang menulis. Jadi, keluarkan saja apa yang ada dipikiran kalian saat itu tanpa harus memikirkan "apa ini benar ya? Apa ini sesuai eyd ya?".
Hal ketiga yang membuat kita mudah menulis adalah "tulislah perjalanan yang kita lakukan atau kita inginkan". Hal ini akan membuat kita bahagia ketika menulis karena kita sendiri mengalami untuk mengingatnya. Bukan kah jalan-jalan itu hal yang menyenangkan juga ?
Tema : Mengatasi Writer's Block
Resume ke - : 7
Gelombang : 28
Tanggal
: 23 Januari 2023
Narasumber : Ditta Widya Utami, S.Pd., Gr.,
Siapa
pun yang ingin menjadi penulis andal, maka harus siap dengan prosesnya.
Tak bisa instan tentu. Diperlukan jam terbang yang cukup banyak agar bisa
menjadi seperti Omjay, Bunda Kanjeng, Pak Dail, Bunda Aam, Bu Rali, Mr. Bams,
Prof. Eko, dan lainnya yang tak bisa Beliau sebut satu per satu.
Beliau
sendiri sudah senang membaca buku-buku cerita sejak kecil (sebelum SD). Senang
menulis sejak di sekolah dasar (dalam buku diary). Lalu ... saat SMP, sering
mengirim tulisan ke mading sekolah dan pernah menulis cerita di buku tulis yang
dibaca bergiliran oleh teman-teman. Atas arahan guru Bahasa Inggris Beliau saat
itu, Beliau juga menulis diary dalam bahasa Inggris.
Ketika
SMA, Beliau masih tetap menulis diary. Beberapa teman dekat yang membaca diary Beliau
sempat berkomentar bahwa tulisan Beliau sudah seperti novel 😅 Namanya
anak remaja, banyak emosi yang dituangkan dalam catatan Ditta remaja. Namun
belakangan, Beliau tahu bahwa menulis apa pun yang kita rasakan bisa menjadi
self healing yang baik. Bahkan saat ini, beberapa psikolog ada yang menyarankan
kepada para pasiennya untuk menulis sebagai salah satu cara
mengatasi depresi dsb.
Rupanya
kebiasaan menulis tersebut memberi banyak manfaat. Misalnya ketika kuliah, Beliau
pernah membuat buku Petualangan Kimia bersama rekan Beliau dan diikutsertakan
dalam Lomba Kreativitas Mahasiswa di Jurusan. Alhamdulillah meraih posisi
kedua. Di saat kuliah juga, Beliau menulis proposal bersama teman-teman dan
kami berhasil mendapat dana hibah untuk asosiasi profesi dari Dikti hingga 40
juta. Di tahun 2009-2010 jumlah tersebut tentu sangat besar.
Menulis
adalah kata kerja yang hasilnya bisa sangat beragam. Oleh karena itu tak hanya
novelis, cerpenis, jurnalis atau blogger, namun ada juga copywriter yg
tulisannya mengajak orang untuk membeli produk, ada content writer yang
bertugas membuat tulisan profesional di website, ada script writer penulis
naskah film/sinetron, ada *ghost writer, techincal writer, hingga
UX writer, dll*.
Faktanya,
penulis-penulis tersebut masih bisa terserang virus WB alias *Writer's Block*.
Tak peduli tua atau muda, profesional atau belum, WB bisa menyerang siapa pun
yang masuk dalam dunia kepenulisan. Oleh karena itu, penting bagi seorang
penulis untuk mengenali WB dan cara mengatasinya.
Karena
... WB ini bisa menjangkit dalam hitungan detik, menit, hari, minggu, bulan,
bahkan tahunan. Tergantung seberapa cepat kita menyadari dan mengatasinya.
Sederhananya,
WB adalah kondisi dimana kita mengalami kebuntuan menulis. Tak lagi produktif
atau berkurang kemampuan menulisnya. Hal ini bisa terjadi dengan
disadari atau pun tidak.
Istilah
writer's block sebenarnya sudah ada sejak tahun 1940an. Diperkenalkan pertama
kali oleh Edmund Bergler, seorang psikoanalis di Amerika.
Berkaca
dari pengalaman, WB ini bisa terjadi berulang. Me-reinfeksi kita sebagai
penulis. Itulah mengapa Beliau katakan WB ini sebagai "virus" yang
sesekali bisa aktif bila kondisinya memungkinkan.
Ibarat
penyakit, tentu akan lebih mudah disembuhkan bila kita mengetahui faktor
penyebabnya, bukan? Begitu pula dengan WB. Agar bisa terhindar atau segera
terlepas dari WB, maka kita perlu mengenali penyebabnya.
Berikut
beberapa penyebab Writer Block
Mencoba
metode/topik baru dalam menulis sebenarnya bisa menjadi penyebab sekaligus obat
untuk WB.
Misal
ketika jadi penyebab:
Ada
orang yang senang menulis cerpen atau puisi. Kemudian tiba-tiba harus menulis
KTI yang tentu saja memiliki struktur dan metode penulisan yang berbeda. Bila
tak lekas beradaptasi, bisa jadi kita malah terserang WB.
Dalam
Kamus Psikologi, stres diartikan sebagai ketegangan, tekanan, tekanan batin,
tegangan dan konflik. Lelah fisik/mental akibat aktivitas harian yang padat
juga dapat memicu stress. Pada akhirnya, jangankan menulis, kita bisa merasa
jenuh dan suntuk. Terserang WB deh
Maka,
mencoba hal baru dalam menulis bisa jadi alternatif solusi. Mempelajari hal-hal
baru yang berbeda dg sebelumnya pasti menyenangkan. Beberapa teman dan Beliau
sendiri terkadang memilih untuk sejenak rehat dan melakukan hal yang disukai
untuk refreshing.
Membaca
buku-buku ringan untuk cemilan otak juga bisa jadi solusi mengatasi WB. Biar bagaimanapun,
WB bisa terjadi karena kita belum bisa mengekspresikan ide dalam bentuk kata.
Dengan membaca, kita bisa menambah kosa kata. Pada akhirnya, jika diteruskan
insya Allah bisa sekaligus mengatasi WB.
Terakhir
yang bisa menyebabkan WB adalah terlalu perfeksionis.
bu
Bapak hebat, masih ingat kisah Beliau menulis diary berbahasa Inggris yang Beliau
ceritakan di awal? 😊
Jika
Beliau membuka kembali diary berbahasa Inggris yang Beliau tulis saat duduk di
kelas 2 SMP, Beliau akan tersenyum bahkan tertawa sendiri.
Bagaimana
tidak?
Grammar
nya saja banyak yang tidak sesuai, tapi Beliau tetap PD menulis 😄
tak hanya satu, ada dua atau tiga diary. Tapi,
justru itulah salah satu kunci menghadapi WB
Bila
saat itu Beliau terlalu perfeksionis, terlalu memikirkan apakah tulisan Beliau
sudah sesuai kaidah atau belum, niscaya diary berbahasa Inggris itu tidak
akan pernah rampung.
Kondisi
menulis dimana kita tidak memikirkan salah eja, salah ketik, koherensi dsb
ternyata dalam dunia psikologi dikenal dengan istilah free writing
atau menulis bebas.
Nah,
jadi siapa di sini yang masih khawatir tulisannya tidak dibaca? Khawatir
dinyinyir orang? Khawatir dikritik ahli? Khawatir tulisannya nggak bagus? Dan
masiiih banyak kekhawatiran lainnya.
Ada
pepatah yang mengatakan:
"It
doesn't matter how brilliant is your brain. If u do not speak up, it would be
zero."
Mari,
tuangkan dan sampaikan ide ide kita, pemikiran pemikiran kita, perasaan
perasaan kita agar menjadi lebih bermakna.
Sedikit
tips yang Beliau kutip dari seorang penulis bernama Mark Twain:
"Rahasia
untuk maju adalah memulai. Rahasia untuk memulai adalah memecah tugas-tugas
rumit Anda yang luar biasa menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dikelola, dan
kemudian memulai dari yang pertama."
Judul : Kiat Menulis Buku Mayor dalam Dua Minggu
Resume ke - : 6
Gelombang : 28
Tanggal
: 20 Januari 2023
Narasumber : Prof. Richardus Eko Indrajit
Menulis untuk buku mayor merupakan menulis sesuai kebutuhan atau keinginan orang lain bukan untuk diri sendiri. Contoh judul Buku Mayor yang dibutuhkan di beberapa sekolah :
• Classroom Design and Management
• Community Based Learning
• Computer-Based Assessment
• Competency-Based Learning
• Computer-Adaptive Assessment
• The 21st Century Learning Skills
Tidak
perlu berfikir panjang-panjang dulu. Mulai dari satu hal yang sederhana. Jangan
menuliskan sesuatu yang kita tidak mengerti dan tidak ada
sumber referensinya.
Tips
menulis buku mayor : Carilah judul yang ANTI
MAINSTREAM. Kalau yang BIASA-BIASA SAJA, biasanya penerbit mayor tidak
tertarik menerbitkannya.
Referensi
adalah bentuk penghormatan kita terhadap karya orang lain yang butir-butir
kontennya kita pakai dalam buku kita. Semakin banyak kita pakai
pemikiran orang lain, semakin banyak referensi yang kita pergunakan.
Tujuan
workshop menulis adalah agar guru-guru BISA MENULIS BUKU bukan sekedar TAHU
CARANYA NULIS BUKU.
Judul : Blog sebagai media
pembelajaran
Resume ke - : 5
Gelombang : 28
Tanggal
: 18 Januari 2023
Narasumber : Purbaniasita
Kata
“Blog” berasal dari kata weblog yang diperkenalkan pertama kali pada 1998 oleh
Jhon Barger. Barger memberi nama weblog untuk mengkhususkan istilah website
yang bersifat pribadi dan sering diperbarui dari waktu ke waktu. Dengan kata
lain, blog adalah website yang bersifat personal, yang memuat opini personal
dan hal-hal lain untuk mengaktualisasikan diri dan mengabarkannya pada
komunitas global.
Jenis-jenis
blog :
1. Blog
sebagai rumah belajar dan berbagi guru
Kreativitas dan kegemaran guru dapat
disalurkan melalui blog, seperti kreativitas dalam menulis, maupun karya-karya
lainnya
2. Blog
dapat meringankan tugas dan beban guru
Blog memudahkan guru karena segalanya
dapat dimasukkan ke dalam blog. Misalnya, materi pelajaran, tugas siswa dan
informasi nilai siswa
3. Blog
dapat meningkatkan minat belajar pada siswa
Seseorang dapat memposting suatu
permasalahan atau materi pelajaran yang disusun dalam suatu bahasa yang formal
tetapi lebih santai. Kemudian para siswa bisa blogwalking ke blog tersebut dan
kegiatan belajar mengajar pun bisa menjadi lebih menyenangkan
4. Blog
dapat diakses oleh siapa pun di belahan dunia
Guru
bisa berbagi materi pelajaran, tidak hanya untuk siswanya melainkan untuk
setiap orang yang membutuhkan pemikirannya dimana pun mereka berada dengan
mudah dan murah
5. Blog
dapat menjadi media silaturahmi
Sarana
untuk bertemu secara tidak langsung dan dapat menjalin komunikasi satu sama
lain, karena blog dapat diakses oleh siapa pun di seluruh dunia.
Judul : Membuat KTI menjadi Buku
Resume ke - : 4
Gelombang : 28
Tanggal
: 16 Januari 2023
Narasumber : Eko Daryono, S.Kom
KTI dalam Peraturan Kepala LIPI Nomor 2, Tahun 2014
tulisan hasil litbang dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran
sistematis yang dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang
memenuhi kaidah ilmiah. Secara umum KTI ada dua yaitu KTI Non-buku
dan KTI Buku.
KTI yang termasuk ke dalam kategori Non Buku antara
lain; KTI bidang akademis untuk mendapatkan gelar : tugas akhir, skripsi,
tesis, disertasi KTI hasil penelitian : PTK, PTS, best practice, makalah,
artikel, jurnal KTI berupa ulasan atau resensi. Sedangkan KTI yang
termasuk ke dalam kategori Buku adalah Buku Bahan Ajar : diktat, modul, buku ajar,
buku referensi; Buku Pengayaan : monografi, buku teks, buku pegangan, buku
panduan; dan Buku kompilasi : bunga rampai, prosiding. Tidak semua KTI itu
berupa buku. Memang secara wujud, PTK, PTS, Tugas Akhir, skripsi, tesis,
desertasi itu berupa buku, namun bukan buku. Lebih tepatnya adalah laporan
hasil penelitian dan sifat publikasinya pun terbatas.
Struktur
penulisan BAB KTI sebagai berikut :
HALAMAN
AWAL
BAGIAN
ISI
BAB
I PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG MASALAH
B. RUMUSAN
MASALAH
C. TUJUAN
PENELITIAN
D. MANFAAT
PENELITIAN
BAB
II KAJIAN TEORITIS
A. KAJIAN
PUSTAKA
B. HASIL
PENELITIAN YANG RELEVAN
C. KERANGKA
PEMIKIRAN
D. HIPOTESIS
BAB
III METODE PENELITIAN
A. JENIS
PENELITIAN
B. TEMPAT
DAN WAKTU PENELITIAN
C. SUBJEK
PENELITIAN (POPULASI DAN SAMPEL)
D. DATA
DAN SUMBER DATA
E. TEKNIK
VALIDASI DATA
F. TEKNIK
PENGUMPULAN DATA
G. TEKNIK
ANALISIS DATA
A. DESKRIPSI
OBYEK PENELITIA
B. HASIL
PENELITIAN DAN ANALISIS DATA
C. PEMBAHASAN
A. SIMPULAN
B. SARAN
Struktur
di atas umumnya dijadikan sebagai standar dalam Menyusun bab-bab dalam KTI
meskipun untuk KTI sejenis skripsi, tesis, desertasi, tugas akhir memiliki gaya
yang berbeda di setiap kampus.
Perbedaan
laporan KTI dengan KTI yang menjadi Buku?
Secara subtansi isi, tidak ada perbedaan isi laporan
KTI dengan isi buku hasil konversinya. Karena sejatinya isi buku mencerminkan
keseluruhan isi laporan KTI. Secara sistematika, tentunya gaya
penulisan KTI dengan penulisan buku tentu berbeda. Ada penyesuaian-penyesuaian
sistematika KTI yang dikonversi menjadi buku dengan tujuan agar kesannya tidak
kaku. Misalnya penomoran tiap sub bab-sub bab. Secara Bahasa,
meski sama-sama ilmiah, hasil konversinya tentu harus dimodifikasi sehingga
Bahasa dalam bukunya lebih luwes, bersifat lugas dan tidak lagi mencantumkan
kata-kata seperti penelitian ini, peneliti, teman sejawat, penulis.
Bagaimana
cara mengkonversi KTI menjadi buku?
1. Memodifikasi
Judul
Judul KTI umumnya mengandung unsur :
variabel penelitian, objek penelitian, dan seting penelitian (baik
tempat maupun waktu). Judul buku hasil konversi seperti judul
buku-buku yang punya daya tarik dan daya jual harus menarik, unik, mudah
diingat, dan mencerminkan isi buku. Kemenarikan judul buku sifatnya subjektif.
2. Memodifikasi
Sistematika dan Gaya Penulisan
KTI Nonbuku yang berupa laporan hasil
penelitian umumnya ditulis dengan sistematika dan penomoran yang baku seperti
yang telah saya uraikan di atas. Nah, pada saat laporan tersebut
dikonversi menjadi buku, maka harus dimodifikasi gayanya sesuai dengan gaya
penulisan buku. Tidak tampak lagi adanya sub bab-sub bab yang membuat isi buku
seolah-olah terpisah-pisah
Modifikasi BAB I
Bab I yang biasanya PENDAHULUAN boleh
tetap dipertahankan judulnya dengan PENDAHULUAN, boleh PEMBUKA atau kata lain
yang menggambarkan kemenarikan buku. Pada konversi PTK yang saya buat,
saya rubah pendahuluan dengan FENOMENA PEMBELAJARAN TIK yang tentunya berisi
mengenai fenomena sebagaimana isi poin latar belakang dalam naskah laporan
aslinya ditambah dengan fenomena kekinian agar pentingnya isi buku dapat
ditonjolkan sejak awal sehingga pembaca merasa tertarik untuk membaca
keseluruhan isi buku. Adapun secara struktur, tidak diperlukan lagi
sub bab - sub bab seperti latar belakang, permasalahan, tujuan, manfaat dalam
bentuk angka-angka. Fokusnya lebih mengeksplor latar belakang.
Modifikasi BAB II
Sumber Asli
Modifikasi BAB III
Substansi bab 3 sebenarnya lebih
terfokus pada metode, teknik pengumpulan data (instrumen) serta analisis data.
Jika berupa PTK berisi langkah-langkah tindakannya. Beberapa alternatif
yang dapat diterapkan. Benar-benar menghilangkan bab III, menginclude bab 3
di bab 2 atau menarasikan bab 3 di awal bab pembahasan.
a. Menghilangkan
bab 3 maksudnya keseluruhan isi bab 3 dihilangkan, sebab bunyi bab 3 sebenarnya
bisa dicermati dari isi pembahasannya.
b. Menginclude
bab 3 di bab 2 maksudnya konsep pokok terpenting dari bab 3
digabung dalam bab 3.
c. Menarasikan
bab 3 di awal bab pembahasan maksudnya menyampaikan substansi isi bab 3
sebagai awal pembahasan
Modifikasi BAB IV
Bagian
ini sejatinya merupakan bagian inti isi buku, sesuai dengan judul buku. Bab IV
tidak lagi menggunakan judul Hasil Penelitian dan Pembahasan, namun disesuaikan
dengan konteks buku. Judul buku menjadi pilihan
sebagai judul Bab IV.
Pada
buku bab IV dapat dimasukkan tabel, grafik, foto-foto kegiatan maupun hasil
penelitian yang menyatu dalam buku. Bab IV tidak lagi berisi data mentah
seperti nilai dari setiap siswa berikut namanya. Foto pun hanya sekedar yang
dibutuhkan sebagai pendukung.
Modifikasi BAB V
Pada
laporan hasil penelitian, bab V biasanya diberi judul PENUTUP. Judul tersebut
dapat dipertahankan. Hanya
saja, isi bab tidak hanya simpulan dan rekomendasi (saran) saja, namun
ditambahkan temuan yang terkait dengan hasil penelitian.
Beberapa
hal yang perlu diperhatikan saat mengkonversi KTI menjadi Buku:
1. Keaslian
laporan hasil penelitian. Tindakan Plagiat tidak dibenarkan terlebih karya
seperti PTK kadang tidak dicek keasliannya. Namun saat diterbitkan jadi buku,
maka penulis harus yakin betul bahwa karya yang akan diterbitkan memang
oroginal punya penulis sendiri.
2. Menghindari
kompilasi yang terlalu banyak.
3. Memilah
dan memilih data yang dipublikasikan. Data matang saja yang disajikan agar buku
berbobot dan tidak bombastis.
4. Modifikasi
bahasa buku.
5. Hindari
pengambilan sumber kutipan berantai atau pendapat yang kurang dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
6. Wajib
menuliskan semua daftar Pustaka yang dipakai sebagai rujukan dalam buku untuk
mendukung keabsahan buku.
7. Memperhatikan
kaidah penyusunan buku ber-ISBN khususnya jika akan dinilaikan untuk KP
sesuai Buku 4 PKB
Contoh
memodifikasi dari karya ilmiah menjadi buku
Sumber
Asli
Peraturan
Kepala LIPI Nomor 2 Tahun 2014 menyatakan bahwa:
“Karya
tulis ilmiah yang selanjutnya disingkat KTI adalah tulisan hasil litbang
dan/atau tinjauan, ulasan (review), kajian, dan pemikiran sistematis yang
dituangkan oleh perseorangan atau kelompok yang memenuhi kaidah ilmiah
“Karya
tulis ilmiah merupakan tulisan perseorangan atau kelompok dari hasil penelitian
dan pengembangan, tinjauan, ulasan, kajian, dan pemikiran sistematis yang yang
memenuhi kaidah ilmiah (Peraturan Kepala LIPI Nomor 2 Tahun 2014)
Judul : Berprestasi dengan Literasi
Resume ke - : 3
Gelombang : 28
Tanggal : 13 Januari 2023
Narasumber : Aam Nurhasanah, S.Pd
Menulis
adalah suatu cara untuk berbicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk
menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah dimana. Cara
itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang.
(Seno Gumira Ajidarma) Dengan demikian menulis merupakan suatu cara menampilkan
potensi dan prestasi.
Terkadang kita sanksi dengan kemampuan
menulis dengan bakat dan potensi diri. Insecure terhadap karya tulis
sendiri. Lalu timbul pertanyaan “Apakah saya bisa menulis ? Kalo sudah menulis, apa ada yang baca ? Enak
dibaca ga sih ? Jangan-jangan pembaca ga suka dengan tulisan saya? Lantas setelah menulis apa sih yang bisa
kita dapat ?” dan masih banyak seribu kecemasan dan pertanyaan dalam diri. Begitulah keresahan yang sering
menghambat potensi dan prestasi kita dalam Dunia literasi
Sederhana untuk menjawab pertanyaan
bagaimana kita menggali potensi untuk mengukir prestasi. Menurut Aam Nurhasanah
S.Pd, kita bisa mulai dengan apa yang kita sukai. Setiap manusia diberikan
kesempatan yang sama untuk menggali segala potensi yang dimiliki untuk meraih
prestasi. Sebagai contoh, saya suka menulis maka saya menekuni dunia tulis. Saya
menulis dari apa yang saya sukai, apa yang kita alami, atau apa yang kita
kuasai. Kita bisa menulis puisi, pantun, cerpen, novel, atau kisah inspiratif
yang bisa menginspirasi negeri.
Namun, untuk penulis pemula
banyak sekali kendala untuk memulai tulisan karena takut tulisan jelek, takut
dirunding, tidak percaya diri, takut tulisan tidak sempurna, dan keraguan dalam
mempublikasi tulisan sehingga tulisannya hanya disimpan di dalam draft dan
membiarkan ide itu menguap hingga berlalu begitu saja.
Beberapa tips untuk memulai menulis sehingga dapat menerbitkan buku diantaranya adalah mengikuti kegiatan lomba blog yang diminati, menulis bareng dalam buku antalogi dan yang terpenting adalah “membiasakan menulis satu hari”. Tulislah apa yang ingin ditulis, tuangkan apa yang kamu rasakan. Dengan begitu, rasakan apa yang kamu bisa rasa sampai jenuh melanda.
“Ikatlah Ilmu dengan Menuliskan” Bismillahirrahmanirrahim... Perkenalkan nama saya Annisa, guru Fisika di salah satu sekolah swasta kota...